Penggunaan Metode Depth First Search (DFS) dan Breadth First Search (BFS) pada Strategi Game.
1.
PENDAHULUAN
Pada era teknologi dan informasi
sekarang ini semua penggunaan teknologi menjadi semakin meningkat dan semakin
intensif. Banyak dari anak kecil hingga orang dewasa menghabiskan waktunya
untuk bermain permainan (games). Berbagai bentuk permainan berbasis komputer
banyak bermunculan, baik yang sederhana maupun yang bersifat kompleks dari segi
aturan permainan.
Pada suatu permainan perlu adanya
metode untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada permainan itu. Salah
satu metode yang ada adalah dengan metode pencarian. Dan salah satu permainan
yang menggunakan metode pencarian lebih khususnya pencarian buta (blind search)
dalam menyelesaikan permainannya adalah Kamen Rider Decade.
Kamen Rider Decade merupakan game
yang berasal dari Jepang. Pada permainan ini, para Kamen Rider melawan para
musuhnya yang memiliki senjata. Kesulitan dari game ini yaitu ketika salah
memilih satu langkah atau strategi maka bisa saja cepat kalah dalam permianan
ini. Untuk itu dibutuhkan adanya strategi yang baik untuk memenangkan permainan
ini. Untuk menyelesaikan persoalan permainan ini dibutuhkan suatu metode
algoritma yang efektif untuk dapat diterapkan. Dilihat dari kesulitan permainan
ini, Kamen Rider Decade ini membentuk ruang solusi yang diorganisasikan ke
dalam struktur pohon dinamis.
Struktur pohon dinamis sendiri
dibangun dengan 2 metode transversal yaitu Breadth First Search (BFS) dan Depth
First Search (DFS). Penelitian ini untuk mengetahui strategi yang efektif untuk
diterapkan pada Game Kamen Rider melalui metode pencarian buta (blind search).
Permasalahan yang muncul dari
penelitian ini adalah bagaimana perbedaan fungsi dari metode BFS dan DFS pada
strategi Kamen Rider melawan musuhnya.
2.
METODOLOGI
Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Dimana pengumpulan data
dilakukan dengan tiga cara. Pertama, melakukan observasi terhadap Game Kamen
Rider Decade tersebut. Dengan cara mengetahui cara permainannya dan mengetahui
peraturan yang ada dalam permainan tersebut dengan mengamatinya secara cermat kemudian
mencatat temuan-temuan yang relevan. Yang kedua, dengan menguji strategi
permainan sebanyak masing-masing 3 kali permainan dengan membandingkan ketika
menggunakan strategi selalu BFS dan selalu DFS serta mencatat hasil pengujian
ini. Ketiga, adalah dengan melakukan studi literatur melalui
penelitian-penelitian yang sebelumnya dan buku-buku yang masih terkait.
2.1
Metode Strategi Game Kamen Rider
Decade
Game Kamen Rider Decade merupakan
game yang berasal dari Jepang. Diadatapsi dari serial Kamen Rider, terdiri dari
5 tokoh Kamen Rider yang akan menyerang musuhnya secara bergantian sebanyak 11
pada mission 1. Informasi mengenai game masih sangat terbatas dikarenakan tidak
banyak buku atau website yang membahas tentang game ini.
Cara bermain dari game ini adalah
dengan cara: 1) secara acak salah satu Kamen Rider terpilih untuk bergerak
(move), kemudian akan ada beberapa petak disekeliling Kamen Rider yang berwarna
terang, 2) pemain memilih pergerakan akan bergeser ke arah mana. Jadi
penggunaan BFS dan DFS disini untuk menentukan arah mana yang harus dipilih
agar menang dalam permainan ini, 3) Kamen Rider jika berhadapan dengan musuh
maka bisa memilih akan melawannya atau tetap bergeser.
Pemilihan langkah atau pergeseran
Kamen Rider sangat mempengaruhi jalannya permainan, maka dari itu sangat
dibutuhkan strategi yang tepat untuk memainkan permainan ini.
2.2 Depth
Search First (DFS)
Dalam metode pencarian terbagi
menjadi dua jenis yaitu pencarian buta (blind search) dan heuristic search.
Pada pencarian buta terbagi menjadi dua macam yaitu pencarian BFS dan DFS.
Algoritma Depth First
Search (DFS) adalah suatu metode pencarian pada sebuah pohon dengan menelusuri
satu cabang sebuah pohon sampai menemukan solusi. Pencarian dilakukan pada satu
node dalam setiap level dari yang paling kiri dan dilanjutkan pada node sebelah
kanan. Jika solusi ditemukan maka tidak diperlukan proses backtracking yaitu
penelusuran balik untuk mendapatkan jalur yang diinginkan. Pada metode DFS
pemakaian memori tidak banyak karena hanya node-node pada lintasan yang akktif
saja yang disimpan. Selain itu, jika solusi yang dicari berada pada level yang
dalam dan paling kiri, maka DFS akan menemukannya secara cepat.
2.3
Breadth Search First (BFS)
Breadth First Search adalah suatu metode
yang melakukan pencarian secara melebar yang mengunjungi simpul secara preorder
yaitu mengunjungi suatu simpul kemudian mengunjungi semua simpul yang
bertetangga dengan simpul tersebut dahulu. Selanjutnya, simpul yang belum
dikunjungi dan bertetangga dengan simpul-simpul yang tadi dikunjungi, demikian
seterusnya. Jika graf berbentuk pohon graf berakar, maka semua simpul pada aras
d dikunjungi lebih dahulu sebelum simpul-simpul pada aras d+1.
2.4
Algoritma BFS dan DFS
Dalam metode pencarian baik yang BFS
maupun DFS memiliki algoritma yang berbeda. Pada algoritma DFS adalah algoritma
yang melakukan penelusuran dengan mengunjungi secara rekursif. Prosedur dari
algoritma DFS dapat digambarkan sebagai berikut. a) Transversal dimulai dari
simpul v, b) Kunjungi simpul v, c) Kunjungi simpul w yang bertetangga dengan v,
d) Ulangi DFS mulai dari simpul w, e) Ketika mencapai simpul u sedemikian
hingga semua simpul yang bertetangga dengannya telah dikunjungi, pencarian
dirunut balik (backtrack) ke simpul terakhir yang dikunjungi sebelumnya dan
mempunyai simpul w yang belum dikunjungi, f) Pencarian berakhir bila tidak ada
lagi simpul yang belum dikunjungi yang dapat dicapai dari simpul yang telah
dikunjungi.
Perbedaan antara DFS dan BFS hanya
pada pemasukan daftar kunjungan ke simpul tetangga. Jika dalam BFS akan
mengunjungi semua simpul yang bertetangga untuk memperlebar dengan tidak akan
melewatinya lagi jika sudah melewati sampai semuanya dikunjungi. Jika pada DFS,
ingin memperluas simpul dengan masuk ke dalam grafik, jadi memasukan simpul
yang baru ke awal kunjungan.
3.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data yang diperoleh
melalui observasi langsung pada game ini dan memainkan game ini dengan selalu
BFS dan selalu DFS sebanyak 3 kali menemukan perbedaan fungsi serta membantu
dalam mengatur strategi jika mengetahui fungsi dari BFS dan DFS pada game ini.
Pada percobaan tersebut, ketika
menggunakan selalu DFS maka akan kalah dalam waktu yang singkat. Namun pada
penggunaan selalu BFS maka pada permainan 3 kali maka 1 kali permainan bisa
menang dan dalam waktu yang masih bertahan lama. Kemungkinan penggunaan selalu
BFS menang atau tidaknya juga dipengaruhi dari pemilihan pemain yang memang
secara acak untuk dimainkan.
Secara pengetahuan umum mengenai
strategi menekankan pada pengetahuan yang melebar (breadth) pada pengembangan
produk kelompok, sedangkan secara khusus fokus untuk pengetahuan yang dalam
(depth) [5]. Sehingga dapat dianalogikan bahwa metode Breadth First Search pada
dasarnya memiliki fungsi sebagai pengatur strategi pengembangan pengetahuan
kelompok yang baik, sedangkan pada DFS digunakan secara khusus seperti dalam
hal tertentu.
Pada penggunaan metode DFS, para
Kamen Rider berjalan maju yang membuat posisinya semakin dekat dengan musuhnya
serta jika pada DFS maka para Kamen Rider akan melawan musuh lebih individu,
berbeda dengan metode BFS dimana para Kamen Rider bergerak menyamping kiri maka
membuat tempo musuh mendekat para Kamen Rider menjadi semakin lama serta para
Kamen Rider akan berkumpul pada salah satu yang membuat kerjasama antar Kamen
Rider menjadi semakin terlihat.
4.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian bahwa
dalam permainan Kamen Rider dibutuhkan strategi yang tepat baik melalui metode
BFS maupun DFS. BFS pada game ini lebih bermanfaat untuk pertahanan dan
kemungkinan lebih besar menang dibanding menggunakan DFS. Metode DFS bermanfaat
kepada kecepatan permainan, sehingga dibutuhkan kolaborasi dari dua metode ini
pada strategi permainan Kamen Rider sehingga dapat mudah memenangkan permainan
ini.
5.
REFERENSI
[1]
Dana Creamer. 2007. The Application of
Artificial Intelligent to Solve a Physical Puzzle. Departement of Computer
and Information Sciences, Indiana University South Bend.
[2]
Rinaldi Munir. 2005. BFS dan DFS. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
[3]
Cormen, T.H., Leiserson, C.E., Rivest, R.L. dan Stein, C. 2009. Introduction to Algorithm. Third
Edition. Massachusetts: MIT Press.
[4]
--, 6. 006 2011. Intro to Algorithms:
Recitation. --:--.
[5]
Scott F. Turner, et al. 2002. Exploring
Depth Versus Breadth in Knowledge Management Strategies. Computational &
Mathematical Organization Theory. Kluwer Academic Publishers 8, 49-73.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusEh jangan malu malu komentar aja👍
Hapus